Pages

Sabtu, 06 November 2010

Air Asia Story

Ketika tiba-tiba mengepakkan sayapnya ke angkasa di tahun 2002, AirAsia telah menjadi salah satu maskapai udara hemat biaya yang berhasil di Asia saat ini. Maskapai ini sekarang mengangkut jutaan penumpang dan mendapatkan keuntungan bersih jutaan ringgit setiap tahunnya.

 


Awalnya AirAsia dimiliki oleh DRB-HICOM milik Pemerintah Malaysia namun maskapai ini memiliki beban yang berat dan akhirnya dibeli oleh mantan eksekutif  Time Warner, Tony Fernandes, dengan harga simbolik 1 Ringgit dan menanggung utang sebesar 40 juta RM pada 2 Desember 2001.

Tragedi 9/11, justru menjadi “berkah” bagi AirAsia, meskipun pada saat yang sama AirAsia harus menghadapi persaingan yang ketat dari maskapai udara hemat biaya lainnya, serta kepemimpinan para CEO yang kurang mengenal industri penerbangan.

Tony melakukan  turnaround  dan AirAsia berhasil membukukan laba pada 2002 dengan berbagai rute baru dan harga promosi serendah 10 RM bersaing dengan Malaysia Airlines. Tapi pada akhirnya AirAsia berhasil sebagai trendsetter maskapai udara biaya rendah di Asia.

Tahun 2002, Air Asia memulai bisnis ini dengan dua pesawat dan sekarang Tony dengan air Asia telah memiliki 86 pesawat yang menerbangkan sekitar 30 juta orang ke seluruh dunia.

Pada 2003, dibukalah pangkalan kedua di Bandara Senai, Johor Bahru dekat Singapura dan AirAsia melakukan penerbangan internasionalnya ke Thailand. Sejak itu, dibukalah Thai AirAsia dan dilakukanlah berbagai penambahan rute seperti ke Singapuradan Indonesia. Penerbangan ke Makau dimulai pada Juni 2004 sedangkan penerbangan ke Manila dan Xiamen dimulai pada April 2005. Rute lain yang akan dibuka adalah ke Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Laos.

Selain Thai AirAsia, di Indonesia juga terdapat perusahaan AirAsia yaitu Indonesia AirAsia  (sebelumnya bernama AWAIR) yang terbang dari Jakarta ke Balikpapan, Denpasar, Medan, Padang, Pekanbaru,  Surabaya  dan Batam.

 


Di tangan Tony Fernandes, sesuatu yang mustahil bisa menjadi kenyataan. Ketika naik pesawat terbang menjadi gaya hidup mewah, Tony malah menyulapnya sebagai hal biasa untuk semua orang. Dengan jargon “Now Everyone Can Fly”, dia membuat semua orang bisa terbang dengan Air Asia miliknya. Ya, Tony telah mengubah peta industri penerbangan di Asia dengan kehadiran Air Asia, tetapi juga membawa banyak terobosan di Indonesia dengan konsep low cost carrier (LCC) yang diusungnya.

Uniknya, meski awalnya berbeda dari yang lain dan merupakan pendatang baru di bisnis transportasi udara, Air Asia berkembang sangat pesat. Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara, tahun 2009 jumlah penumpangnya untuk penerbangan internasional mencapai 1,98 juta orang dengan pangsa pasar 40,09%. Sementara untuk penerbangan domestik, ada 1,45 juta penumpang dengan pangsa pasar 4,34%. Decak kagum pun bertambah karena jumlah armadanya terus meningkat, ditargetkan 60 unit pesawat pada 2011.

 

Karyawan dan penumpang

Fernandes menerapkan gaya manajemen keliling. "Jika Anda duduk di menara gading dan hanya melihat laporan keuangan, Anda akan melakukan kesalahan besar," kata Fernandes. Selama beberapa hari dalam setiap bulan, dia akan bekerja di lapangan atau bersama awak kabin di pesawat.

"Ketika kami mengganti pesawat dari jenis 737 ke Airbus, Air bus lebih tinggi dari landasan dan kru saya mengatakan kita butuh belt loaders (kendaraan pengangkut barang). Dan harganya sekitar satu juta dolar. Kami memutuskan untuk memasukan tas-tas secara manual," tutur pria yang dekat dengan pengusaha Inggris Richard Branson tersebut. Metode manual ini dihapus ketika Fernandes bekerja di lapangan dan membantu memasukkan barang ke pesawat Airbus. Ia mengaku hampir sakit pinggang gara-gara memasukkan barang  secara manual. "Andai saja saya tetap memaksakan cara manual, maka akan ada banyak orang yang sakit pinggang," katanya. Fernandes mengatakan bagi dia karyawan adalah yang utama, kemudian nomor dua konsumen.

 

Ekspansi

Setelah sukses dengan penerbangan jarak dekat, Air Asia memperluas jangkauan dengan melayani penerbangan jarak jauh dengan maskapai baru Air Asia X. Fokus perusahaan baru ini berbeda dengan Air Asia, satu untuk melayani rute penerbangan jarak dekat dan satu lagi untuk penerbangan jarak jauh.

 

Keinginan Fernandes di masa kecil untuk memiliki maskapai penerbangan murah, bermula ketika dia masih belajar di sekolah asrama di Inggris Selatan. Keinginan untuk pulang ke kampung halamannya ke Malaysia di waktu liburan tidak dapat dilakukan karena harga tiket pesawat yang mahal. "Saya selalu bermimpi memiliki maskapai penerbangan jarak jauh yang murah," kata Fernandes.

 

Bisnis Minimalis

Tampaknya Tony konsisten dengan bisnis yang minimalis. Lihat saja, setelah sukses dengan bisnis maskapai LCC Air Asia, dia menjajal peruntungan di bisnis hotel yang berkonsep no frill. Tune Hotel, inilah nama hotel besutan pria yang suka memakai topi bisbol warna merah ini. Hotel anyar tersebut membuat gebrakan dengan persembahannya: pengalaman tidur di hotel bintang 5, tetapi dengan harga bintang 1.

Tune Hotel pertama kali beroperasi di Malaysia. Bagaimana dengan di Indonesia? Pada 6 November 2009 Tune Hotel resmi dibuka di Bali, sebanyak dua cabang sekaligus: di Kuta dan Seminyak. Hebatnya, baru dibuka, tingkat hunian sudah mencapai 90%. Tentu saja, keberhasilan maskapai Air Asia dan Tune Hotel tidak bisa dilepaskan dari kreativitas Tony yang menjadi CEO. Intinya, Tony itu jika sudah punya kemauan, diwujudkan. Tidak ada kata tidak mungkin, pasti bisa, ujar Dharmadi, Direktur Indonesia Air Asia, mengomentari kegigihan dan sikap inovatif atasannya ini.

Tony bisa berhitung dengan cermat, sehingga tidak boleh buang duit for do nothing. Justru kegilaan Tony pada finance itulah yang membuatnya tetap low budget, high impact, ulet dalam mencari celah untuk mewujudkan gagasan bisnis.

Kreativitas lain Tony, menciptakan budaya kerja egaliter. Latar belakangnya di Warner Music mendukung itu. Sang CEO ini tidak segan membersihkan kabin dan mencari tempat duduk sendiri, sehingga semua karyawan memiliki sense of belonging tinggi terhadap perusahaan.

Bagaimana bentuk kreativitas Tony dalam mengelola Tune Hotel? Sesuai dengan konsep no frill, layanan yang diberikan hotel ini sungguh-sungguh layanan mendasar. Selebihnya, untuk setiap layanan ekstra, tamu wajib membayar. Penentuan harga disesuaikan dengan musim, ketersediaan barang dan jangka waktu pemesanan. Dengan kata lain, jika reservasi kamar jauh-jauh hari, kemungkinan mendapatkan tarif kamar murah lebih besar. Sebagai informasi, tarif kamar termurah Tune Hotel sekitar Rp 68 ribu per malam. Namun, saat peak season, misalnya liburan Natal, Tahun Baru dan Lebaran, tarifnya naik berkali lipat, misalnya Rp 500 ribu semalam. Hotel ini memberlakukan masa penginapan dihitung 20 jam per malam, yaitu check in pukul 2 siang dan check out maksimal pukul 10 pagi dan jangan harap tamu akan mendapatkan sandal, handuk, sabun atau odol gratis. Sekali lagi, untuk keperluan ekstra dikenakan biaya. Sebagai gambaran, sewa handuk Rp 17 ribu, sewa pengering rambut Rp 7 ribu, tarif AC untuk 12 jam Rp 50 ribu dan 20 jam Rp 83 ribu, serta fee Wi-Fi Rp 55 ribu untuk 24 jam.

Pada prinsipnya ide Tune Hotel sama dengan Air Asia. Dengan kata lain, mengapa harus bayar mahal untuk sekadar terbang dari satu kota ke kota lain atau dari satu negara ke negara lain.

 

Penghargaan Yang Diraih AirAsia 

- Airline Of The Year 2007

- Asia's Best Budget Airline under Best In Travel Poll 2007

- Airline Human Capital Development Strategy Award 

- Asia's Best Emerging Companies with regards to Corporate Governance

- Best Low Cost Airline in Asia 

- The Brand Laureate 2006-07


Sumber : Dari berbagai sumber

 



0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter