Pages

Senin, 01 Juni 2009

World No Tobacco Day

HARI TANPA ROKOK SEDUNIA


Hari Minggu, 31 Mei adalah Hari Tanpa Rokok Sedunia (World No Tobacco Day). Tapi gaungnya nyaris tak terdengar. Perokok tetap menikmati hisapan rokoknya dan mengepulkan asapnya.

Media Indonesia merilis bahwa, banyak pecandu rokok di Kota Medan menyatakan tidak tahu bahwa 31 Mei sebagai 'Hari Tanpa Tembakau' atau imbauan satu hari tidak merokok. "Kami tidak tahu, karena tidak ada imbauan atau peringatan dari pemerintah dan pegiat kesehatan tentang 'Hari Tanpa Tembakau' pada hari ini," ungkap beberapa perokok yang ditemui di sejumlah warung kopi di Medan.
Seperti disampaikan Erman (56) dan beberapa temannya yang sedang mengisap rokok di salah satu warung di Jalan Puri Medan, sebenarnya menurut mereka imbauan 'Hari Tanpa Tembakau' itu bagus, karena dapat menjaga kesehatan bagi para perokok. Beberapa sopir angkutan kota yang ditanya di kawasan Jalan Aksara Medan, juga mengaku bahwa mereka tidak tahu sama sekali pada 31 Mei diperingati sebagai 'Hari Tanpa Tembakau'.

Pada sejarahnya, di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan. Tapi berbeda dengan bangsa Indian, di Eropa orang merokok bermula hanya untuk kesenangan semata-mata dan bergeser menjadi suatu kebutuhan dan diikuti oleh negara-negara lainnya.

Padahal menurut WHO, setiap tahun di seluruh dunia ada lebih dari 3,5 juta orang yang meninggal oleh penyakit akibat rokok. Jumlah ini kalo kita bandingkan, maka jauh lebih banyak dari korban tsunami Aceh, jauh lebih banyak dari korban penyakit AIDS, juga jauh lebih banyak dari kematian akibat flu burung.

Dan yang lebih ironisnya lagi adalah konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, dan akhirnya berujung pada kematian. "Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok," kata Peneliti Lembaga Demografi FE UI, Abdillah Ahsan. Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia. "Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api," katanya.

Selain itu, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok. "Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan".
Di Jepang baru-baru ini dilakukan studi tentang hubungan rokok dan kanker. Seperti yang diberitakan di The Asahi Shimbun, studi ini dilakukan selama 10 tahun menggunakan objek sebanyak 90.000 perokok. Hasilnya ditemukan bahwa peluang munculnya kanker bagi perokok adalah 1,6 kali dari orang yang tidak merokok untuk pria, dan 1,5 kali untuk wanita.
Studi hubungan rokok dan daya ingat juga dilakukan. Dari hasil analisis otak, peneliti dari Neuropsychiatric Institute at the University of California menemukan bahwa, jumlah dan tingkat kepadatan sel yang digunakan oleh untuk berpikir jauh lebih rendah pada orang yang merokok dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Tahukah Anda, bahwa yang lebih mengerikan lagi adalah perokok pasif justru menghisap lebih banyak zat berbahaya dibandingkan perokok aktif?, perokok aktif hanya menghisap sekitar 25% dari asap rokok yang berasal dari ujung yang terbakar. Sementara 75% lainnya diberikan kepada non perokok ditambah separuh asap yang dihembuskan perokok.

Jumlah perokok di Indonesia menempati urutan ke tiga setelah China dan India. Sekitar 2.000 orang meninggal dunia setiap hari karena rokok. Sementara 43 juta anak Indonesia dan 64 juta perempuan terpapar asap rokok orang lain. Lebih dari 150 juta orang Indonesia "dipaksa" menghirup asap rokok orang lain.

Setiap perokok menghisap dua bungkus rokok, dia telah mengurangi umurnya selama 8 tahun. Begitu juga dengan orang yang kena asap dari dua bungkus rokok, akan mengurangi umurnya selama empat tahun.

Sehubungan hal itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa tentang haram rokok bagi anak-anak, pelajar, dan remaja. Hal ini justru mendapat reaksi dari sejumlah pihak, terutama dari kalangan yang memiliki kepentingan langsung secara ekonomis dengan bisnis rokok, seperti pengusaha rokok dan petani tembakau.

Dari segi ekonomisnya memang sangat menguntungkan untuk Negara, Sekarang, besaran cukai rokok 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU No: 39/2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri terhadap rokok yang mencapai 65 persen.

Hal lain yang merupakan upaya untuk memerangi rokok adalah dengan menggiatkan penyuluhan kesehatan, antara lain dengan menambahkan gambar atau bentuk dari penyakit yang ditimbulkan rokok pada setiap kemasannya, seperti yang telah dilakukan Inggris dan Thailand serta beberapa negara lainnya.
Menurut Survei Health Promotion Board tahun 2004 sebanyak 47 persen perokok menyatakan mereka mengurangi konsumsi rokok setelah melihat peringatan kesehatan dengan gambar di kemasan rokok.
Hal ini juga ditegaskan Vice President Yayasan Jantung Indonesia Mia Hanafiah mengatakan, bahasa visual lebih efektif dalam peringatan kesehatan pada kemasan rokok."Salah satu cara agar efektif adalah dengan bentuk visual atau gambar-gambar, karena bahasa visual lebih gamblang dari hanya sekadar peringatan," ujarnya.


Peringatan Hari Tanpa Rokok Sedunia ini, diharapkan menjadi kesempatan bagi kita semua untuk berpikir lagi sejenak dan menyadari kembali akan bahaya dan dampak rokok, baik untuk diri kita sendiri, maupun untuk anggota keluarga dan masyarakat banyak. Dengan berhenti merokok, kita bisa menghemat uang, sehingga kita dapat dua keuntungan, yaitu kita bisa sehat dan bisa hemat, sesuai dengan pepatah ''sambil menyelam minum air''. Semoga bahaya rokok ini menjadi renungan kita seiring Hari Tanpa Rokok Sedunia.


Dikutip dari berbagai sumber.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter