Pages

Rabu, 13 Mei 2009

Capres dan Cawapres

PASANGAN SBY - BOEDIONO



Duet SBY-Boediono
Ketua Bidang Sumber Daya Manusia DPP Partai Demokrat (PD), Andi Mallarangeng, di Istana Negara, mengatakan, sejak awal pembicaraan koalisi dengan partai-partai politik yang mendukung PD sudah menyampaikan bahwa sesuai dengan hasil rapimnas PD SBY diberikan kewenangan penuh untuk menentukan calon wakil presidennya.
Menyikapi sikap mitra koalisi PD, yaitu PKS, PPP, dan PAN yang mengancam untuk menarik diri dari koalisi apabila SBY memilih Boediono sebagai cawapres, menurut Andi "Terakhir sudah langsung dikomunikasikan kepada pimpinan partai masing-masing, dan dari komunikasi itu rasa-rasanya semua bisa menerima," ujarnya. Andi tidak mengkhawatirkan koalisi PD dengan partai-partai tersebut akan bubar.
SBY, lanjut Andi, "Siapa pun yang dipilih SBY tidak ada titipan dari Partai A, Partai B. Bukan berarti karena kita komunikasi dengan satu partai, lalu partai itu menitipkan sesuatu, gak ada itu," demikian Andi.
Koalisi PD Terancam Pecah, 3 Parpol akan Membelot
Meski PD sudah membantah, namun informasi dipilihnya Boediono sebagai cawapres oleh SBY diyakini para politisi yang berkoalisi dengan PD sebagai informasi yang valid. Sejumlah parpol, seperti PKS, PAN, dan PPP masih ingin ada negosiasi. Bila tidak ada kata sepakat, bisa saja tiga parpol ini keluar dari koalisi.
Ancaman ini muncul, karena parpol-parpol pendukung Demokrat merasa tidak diakomodir oleh SBY dalam penentuan cawapres. Padahal, parpol-parpol ini sudah mengusulkan agar SBY mengambil cawapres dari parpol pendukung koalisi.
"Kami percaya keputusan SBY terhadap Boediono, meski belum final, tapi sudah lebih dari 90%. Namun masih ada kemungkinan untuk berubah di last minutes," ujar dia.
Karena itu, para politisi PKS, PPP, dan PAN akan melakukan konsolidasi dan negosiasi. Mereka akan melobi kembali SBY dalam satu atau dua hari ini. Bila memang ada kesepakatan, maka tiga parpol itu akan tetap mendukung SBY. Namun, bila tidak, bisa saja mereka akan mendukung kontestan lainnya.
Suasana panas atas pemilihan Boediono juga amat terasa di DPR. Empat parpol rekan koalisi PD menggelar rapat kecil. PKS, PAN, PPP, dan PKB berniat membuat poros alternatif dengan mengajak partai lain, di antaranya Partai Gerindra.
Penunjukan Boediono kabarnya sempat dikonsultasikan pihak SBY ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan melalui Hatta Rajasa.
Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Fachry tetap menyesalkan jika benar Boediono yang dipilih untuk menjadi cawapres SBY. Menurutnya, "Kalau figurnya tak bisa dijual ke basis itu, kita akan kampanye apa" tanya Fachry. Dari PPP melalui sekjennya Taufiq, kecewa karena SBY memilih cawapres bukan dari unsur parpol, seperti apa yang sudah disepakati sebelumnya.
PKS, PAN dan PPP Bahas SBY-Boediono di Hotel Nikko
Menurut Romy, pertemuan ini diinisiasi oleh PKS sebagai partai yang mengaku paling kaget dan tidak siap jika SBY menggandeng Boediono. "Belum sampai ke sana. Kita baru membicarakan soal stand point yang sama" tambah Romy. Prisipnya PPP tidak resisten dengan Boediono karena memang kita tidak dalam posisi mengusung cawapres."
Boediono Bukan Jembatan PDIP-Demokrat
Sekjen PDIP Pramono Anung menegaskan bahwa isu dipilihnya Boediono sebagai cawapres SBY tidak ada kaitannya dengan kedekatan partainya dan PD belakangan ini. Ia pun menolak rumor yang beredar bahwa Gubernur Bank Indonesia itu adalah jembatan yang mencairkan hubungan kedua partai yang selama ini berseberangan.
Namun demikian, Pramono mengakui antara Boediono dan PDIP memang mempunyai kedekatan khusus. "Kami ingin menegaskan bahwa Pak Boediono itu 1000 persen pilihan Pak SBY," tandasnya.
Siapakah Boediono ?
Nama : Prof Dr. Boediono
Lahir : Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Agama : Islam
Isteri : Herawati
Anak : Dua orang
Pendidikan:
- S1: Bachelor of Economics (Hons.), University of Western Australia (1967)
- S2: Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972)
- S3: Doktor Ekonomi Bisnis Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979
Pekerjaan:
- Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2009)
- Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)
- Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter (1997-1998)
- Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997)
- Dosen Fakultas Ekonomi UGM
Prestasi
Doktor Ekonomi Bisnis ini seorang “ekonom bertangan dingin”. terlihat saat menjabat Menteri Keuangan dalam tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong yang disebut publik kala itu sebagai The Dream Team. Dia dipercaya kembali Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (resuffle Senin (5/12/2005).
Selama menjabat Menkeu Kabinet Gotong-Royong, dia berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.
Bersama dalam The Dream Team dan Bank Indonesia, Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972), itu berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik secara signifikan.
Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukan berpenampilan rapih dan low profile itu adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.
Departemen Keuangan di bawah kendali beliau berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar.
Tak heran bila majalah BusinessWeek (AS), memberi Boediono pengakuan sebagai tokoh yang kompeten di posisinya sebagai menteri keuangan.
“Berbagai pelaku bisnis menilai Boediono kredibel, low profile, tidak banyak bicara, prudent dan sangat konservatif”.
Sementara, Boediono yang dikenal sebagai pribadi yang sedikit bicara banyak bekerja itu, belum mau bicara soal cawapres Presiden SBY tersebut

Duet JK-Wiranto
Duet JK-Wiranto merupakan pasangan yang pertama kali dideklarasikan. Secara administratif, duet ini juga pasti lolos karena bisa mengumpulkan 21,88% kursi DPR. Duet sipil-militer ini untuk sementara hanya diusung dua parpol: Partai Golkar dan Hanura.
Dari perolehan suara nasional, perolehan suara dua parpol ini tidak mencapai batas 25%, batas minimal bagi parpol atau koalisi parpol untuk mengajukan capres-cawapres. Namun, koalisi dua parpol ini bisa meraup 21,88% kursi DPR, melebihi syarat 20% kursi DPR yang telah ditetapkan UU. Jadi, tanpa koalisi dengan parpol lain, pasangan JK-Wiranto akan bisa mulus menjadi capres-cawapres 2009.
Kesepakatan Golkar dan Hanura dibacakan Sekjen DPP Golkar Soemarsono.
Dalam deklarasinya, Kalla menjanjikan upaya keras untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan bangsa jika terpilih sebagai presiden. Dengan bekal pengalaman panjangnya sebagai pengusaha, politisi, dan wapres, Kalla yakin dapat mengatasi masalah yang dihadapi bangsa lima tahun mendatang.

Duet Mega - ?????

Sekjen PDIP, Pramono Anung menegaskan, partainya akan segera mengumumkan sikap politiknya untuk membangun koalisi dengan parpol lain dalam waktu satu atau dua hari ke depan. "Yang jelas dalam waktu satu sampai dua hari ke depan akan diumumkan," kata Pramono di kediaman Megawati.
Menyangkut hasil pertemuan dengan kubu PD yang diwakili oleh Hatta Radjasa, Pramono mengatakan kedua partai besar ini membicarakan komitmen bersama dalam membangun bangsa ke depan, komunikasi politik dengan PD akan terus dilakukan oleh PDIP di waktu-waktu mendatang.
Sementara itu, fungsionaris DPP PDIP lainnya, Tjahjo Kumolo menegaskan partainya hingga kini belum membangun komitmen politik apapun dengan PD. "Kami belum pernah ada pembicaraan apa pun dengan Demokrat, pembicaraan baru sebatas dengan Pak Hatta (Hatta Radjasa)," kata Tjahjo yang juga menambahkan, "Posisi Pak Boediono tidak ada sangkut-pautnya dengan PDIP," tegas Tjahjo sembari menambahkan figur cawapres pendamping Megawati yang mendapat dukungan dari massa simpatisan partainya yakni Prabowo Subianto dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Koalisi dengan PD sama saja koalisi dengan antek asing," demikian tulisan spanduk simpatisan PDIP saat menggelar aksi unjuk rasa di dekat kediaman Megawati Soekarnoputri,12/05/09.


Dikutip dari berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter