Pages

Minggu, 24 Mei 2009

Imigran Gelap

IMIGRAN GELAP DAN TANJUNGBALAI




Secara geografis Sumatera Utara sangat strategis dan rentan menjadi pintu masuk bagi imigran gelap. Panjang pantai timur Sumatera Utara adalah 545 km dengan luas daerah 24.700,79 km persegi, terdiri dari 6 kabupaten dan 2 kota,122 kecamatan dan 1566 desa.

Kabupaten/kota yang berada dipantai timur dimaksud adalah Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Tanjung Balai, Labuhan Batu. Semua daerah ini memiliki garis pantai dan
ternyata pesisir pantai timur Sumatera Utara rentan dari eksploitasi manusia. Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, dan kerap menjadi pintu masuk bagi para imigran gelap, terutama dari timur tengah dan Afghanistan yang ingin melintas ke Australia.

Muharam salah seorang Afghanistan kepada Harian SIB mengaku berangkat dari Afghanistan dengan pesawat terbang melalui Kabul tujuan Malaysia. “Indonesia bukan merupakan tujuan utama akan tetapi merupakan alternatif dengan alasan Indonesia negara yang aman dan tertib,” ujar Muharam yang mengaku kehilangan 2 anak dan istri. Muharam menambahkan, mereka meninggalkan Malaysia karena Polisi Diraja Malaysia terus menerus melakukan pengejaran.

Berikut data penemuan Imigran Gelap di daerah Tanjungbalai dan daerah yang berhampiran Tahun 2009
,
20 Mei 09, Sebanyak 30 orang imigrasi gelap terdiri dari warga negara Irak 19 orang dan warga negara Afganistan 11 orang diamankan petugas imigrasi Tanjungbalai Asahan dari Tanjung Ledong Labuhanbatu.

15 April 09, Sebanyak 63 warga negara Afghanistan, 9 orang di antaranya anak-anak yang melarikan diri dari negaranya demi keselamatan dirinya akibat perang yang semakin berkecamuk, terdampar di pantai Desa Silo Laut Kecamatan Silo Laut, Asahan, Ke 63 warga negara Afghanistan tersebut di antaranya ada yang sekeluarga melarikan diri dari negaranya Afghanistan menumpang kapal secara gelap melalui “agen gelap”. Tujuannya ke Kantor Perwakilan PBB di Jakarta untuk minta suaka politik.

6 Feb 2009, Satuan Polisi Air Tanjung Balai, Asahan mengamankan 3 orang Imigran gelap serta 23 orang Tenaga kerja Indonesia Illegal dari Boat pompong di perairan Asahan tepatnya di Kuala Bagan, Asahan, Selasa (3/2) pukul 16.30 WIB.

31 Januari 09
, Sebanyak 18 warga negara asing (WNA) asal Afghanistan diantaranya dua perempuan dan dua anak-anak diinapkan di Rumah Tahanan Imigrasi Belawan, para imigran itu ditangkap Polresta Tanjung Balai, karena masuk secara gelap melalui kawasan Menara Lima Teluk Nibung Tanjung Balai Asahan, Sabtu (31/1) dini hari.

Kepala Kantor Imigrasi Tanjung Balai Asahan melalui Kasubbag Penindakan Agus Herianto menuturkan, pencari suaka itu 11 warga negara Afghanistan dan 19 warga negara Irak. Mereka masuk ke Indonesia dengan tujuan ke Kantor PBB di Jakarta dan Australia. "Di tengah laut, mereka dipindahkan ke kapal ikan lain dan dibawa menuju perairan Tanjung Leidong," ujar Herianto. Setibanya di perairan Tanjung Leidong, lanjut Herianto, pencari suaka itu dijemput kapal motor berkapasitas 5 penumpang, lalu menuju pondok kecil di salah satu kawasan hutan. Dan, kata Herianto, para pemilik sampan motor kemudian menunjukkan jalan menuju ke Jakarta.

"Pencari suaka itu kemudian dijemput, dan 9 orang yang telah berkeluarga diserahkan ke IOM (International Organisation for Migration) perwakilan Medan," ujar Herianto. Sementara, 21 orang lagi, kata Herianto, masih diamankan di Kantor Imigrasi Tanjung Balai Asahan. Mereka meninggalkan negaranya karena konflik berkepanjangan, pungkas Herianto menjelaskan rute perjalanan imigran yang tertangkap pada 20 mei dan tindak lanjutnya..

Ali Muhammad (19) salah seorang imigran gelap menuturkan kepada petugas intel Kodim 0208 Asahan mengatakan berangkat dari Afghanistan tanggal 19 Maret 2009 tujuan Malaysia. Sejumlah warga Afganistan dengan group yang berbeda-beda meninggalkan negaranya dengan tujuan Philipina dan Australia. Sebelumnya group mereka berjumlah 60 orang namun agen memisahkan mereka dengan tujuan yang berbeda beda. Biaya untuk sampai ke Asahan mereka keluarkan Rp10 juta.”Kami terpaksa meninggalkan negara kami karena tidak nyaman masyarakat diculik lalu dibunuh, dari pada kami tewas konyol kami melarikan diri,” kata Ali Muhammad.

Latifah (9) juga seorang warga Afghanistan mengaku abangnya bernama Abbas bersama ibunya tidak diketahui rimbanya, ibu dan abang langsung meninggalkan kami setiba di tangkahan,” katanya kepada SIB dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata.

Roosdi S, petugas Intel Kodim 0208 mengatakan, warga Afghanistan ini diduga dimobilisasi agen untuk meninggalkan Afghanistan, pada saat meninggalkan Afghanistan, kondisi disana lagi tak nyaman dan membuat warga meninggalkan negara.

Pada saat rapat koordinasi dalam rangkaian sosialisasi penanganan imigran gelap pada Jan 2009, Kepala Badan Infokomsu Drs H Eddy Syofian MAP mengemukakan “Saat ini sebanyak 21 imigran gelap yang ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan”. Pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya sosialisasi kepada jajaran terkait di tingkat kecamatan dan masyarakat luas agar semua pihak memiliki pemahaman yang jelas tentang cara-cara penanganan imigran gelap sesuai kebijakan nasional dan asas-asas hukum internasional yang relevan.

Eddy menjelaskan, Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi arus migrasi gelap. Kita berkomitmen mendukung upaya penanganan imigran gelap ini sehingga dapat mengurangi arus migrasi gelap ke Sumatera Utara dan pada saat yang sama dapat mencegah upaya-upaya illegal lainya,kata Eddy.

Ronnie Bala, Programme Manager IOM juga menegaskan komitmennya menangani masalah imigran gelap ini. IOM berkomitmen mendukung pemerintah Indonesia menangani arus imigran gelap. Kita mengupayakan penanganan yang tepat sasaran dan professional sesuai asas-asas kepatutan secara nasional dan internasional, ucapnya.

Menurut Asren Nasution dalam disertasinya, di daerah pantai timur seperti Tanjungbalai ditemukan tingginya tingkat penyeludupan, masuknya warga asing illegal, perompakan dan lain sebagainya terjadi karena kurangnya kontrol dan pencegahan dari masyarakat atas perbuatan kriminal itu.
Pada Kenyataannya di sepanjang Pantai Timur ini ditemukan banyak tinggal keluarga miskin. Jumlah keluarga miskin tercatat sebanyak 512.734 atau 47,92 persen dari jumlah keluarga miskin yang ada di Sumatera Utara. Jumlah ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota pesisir pantai timur termasuk Tanjungbalai. Selama ini perhatian pemerintah provinsi hanya tertuju kepada bagaimana membangun daerah pegunungan dan pantai barat Sumatera Utara. Sementara pantai timur terbengkalai dengan degradasi sumberdaya alam yang luar biasa.

Menurut Nasution, kemiskinan menciptakan ketidak perdulian terhadap lingkungan sekeliling. Mereka kurang perduli akan berbagai tindakan kriminal yang terjadi karena harus terlebih dahulu memperjuangkan kehidupan kesehariannya. Inilah yang menyebabkan rasa nasonalisme mereka rendah. Nasution melihat bahwa tingginya tingkat penyeludupan, masuknya warga asing illegal, perompakan dan lain sebagainya terjadi karena kurangnya kontrol dan pencegahan dari masyarakat atas perbuatan kriminal itu.

Penjagaan pantai yang begitu panjang tidak dapat dilakukan oleh pihak keamanan saja tanpa dibantu oleh masyarakat. Hal ini memerlukan tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga daerahnya dari perbuatan kriminal. Dengan dilakukannya rehabilitasi daerah pesisir akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menciptakan keperdulian masyarakat atas keamanan wilayahnya. Timbul tanggung jawab yang tinggi dari masyarakat terhadap daerah dimana mereka hidup.

Benarkah Tanggung jawab itu akan muncul di kala kita telah hidup sejahtera ?
.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter