Pages

Sabtu, 02 Mei 2009

Flu Babi

TANJUNGBALAI DAN FLU BABI

Pemerintah Meksiko belum lama ini melansir bertambahnya jumlah korban tewas yang diduga disebabkan virus flu babi menjadi 159 orang. Dua puluh di antaranya telah dikonfirmasi akibat flu babi. Sementara kasus flu babi mencapai angka 2.500 dengan 1.311 orang masih menjalani perawatan di RS. Peningkatan penderita flu babi juga dilaporkan pemerintah AS. Hingga Rabu (29/4), 66 orang di enam negara bagian telah dikonfirmasi menderita penyakit flu babi, 45 di antaranya di Kota New York. Diperkirakan, jumlah penderita akan bertambah menyusul sakitnya ratusan siswa di kota itu yang diduga terjangkit flu babi. Di Selandia Baru, temuan kasus flu babi meningkat menjadi 14 orang. Sementara Jerman menjadi negara terakhir yang mengonfirmasi temuan kasus flu babi pada tiga warganya. Temuan flu babi di Jerman menambah daftar negara yang telah melaporkan temuan flu babi menjadi delapan. (Liputan6.com 29/04/2009)

Virus flu babi A/H1N1 berpeluang masuk ke Kota Tanjung Balai, karena lemahnya pengawasan terhadap para penumpang internasional di Pelabuhan Teluk Nibung, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Pemerintah Malysia seperti yang dikutip Associated Press, Wabah flu babi kini telah mencapai kawasan Asia Tenggara. Seorang warga Malaysia yang diduga terjangkit flu babi saat ini tengah menjalani pemeriksaan dan observasi di RS Sungai Buloh, Selangor. ''Pria tersebut belum positif flu babi karena tes masih dilakukan,'' kata Menteri Kesehatan Malaysia Liow Tiong Lai seperti dilansir Associated Press kemarin (jpnn.com, 29/04/2009).


Di Pelabuhan Teluk Nibung, tidak ada ditemukan alat pendeteksi virus flu babi (swine flu) terhadap para penumpang yang datang dari luar negeri sperti “Thermoscan”, sehingga dikhawatirkan penumpang yang mengidap flu babi, bakal menularkannya kepada masyarakat Tanjung Balai dan sekitarnya.

"Pelabuhan Teluk Nibung melayani rute pelayaran internasional. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada pemeriksaan intensif terhadap penumpang yang baru pulang dari luar negeri," ujar agen pelayaran fery, Zulkarnaen, kepada Waspada. Zulkarnaen menambahkan, per harinya diperkirakan ratusan penumpang dari luar negeri tiba ke Kota Tanjung Balai melalui Pelabuhan Teluk Nibung. Oleh sebab itu, lanjutnya, tidak tertutup kemungkinan ada penumpang yang terjangkit virus flu babi.

Petugas Kantor Kesehatan Kelas I Medan Wilker Pelabuhan Tanjung Balai Asahan. " Komandan kami tidak ada, dan kami belum bisa memberi penjelasan tentang hal itu. Langsung saja ke Medan, kami hanya kantor pembantu kesehatan Cabang Medan," ujar petugas yang enggan memberitahu identitasnya itu kepada Waspada (30/04/09).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjung Balai melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Wiyarno, berdalih belum bisa memberikan penjelasan tentang upaya antisipasi flu babi. " Belum ada perintah pusat, jadi kami belum bisa memberi penjelasan tentang upaya pencegahan flu babi masuk ke Tanjung Balai," ujarnya. (“Flu Babi berpeluang masuk ke Tanjungbalai”, Waspada Online Kamis, 30/04/2009)

Penuturan-penuturan pejabat yang terkait sangatlah disayangkan dalam merespon terjadinya KLB “flu Babi/Swine Flu” yang telah menjadi ‘public health emergency of internasional concern’ (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia. Seharusnya pihak terkait seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan fungsinya seperti yang diatur dalam PERMENKES No. 356/Menkes/PER/IV/2008 yaitu antara lain ; pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional; pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan perpindahan penduduk; pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya; pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans kesehatan pelabuhan.

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan seharusnya melakukan screening dengan mewajibkan penumpang kapal yang datang, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (health alert notice) sebagai langkah mendeteksi secara dini kemungkinan penumpang maupun ABK kapal terinfeksi virus H1N1.

Bila ditemukan di tindaklanjuti dengan pemeriksaan medis, kartu tersebut berfungsi laporan untuk mencatat data-data kesehatan penumpang, selama masa inkubasi virus H1N1 tersebut.

Pemberian kartu ini untuk mensiasati belum adanya fasilitas pencegahan seperti ‘thermoscan’ yang dipasang di pelabuhan Teluk Nibung Tanjungbalai.

Persiapan yang juga harus dilakukan sebagai fasilitas untuk kegiatan penanggulangan di antaranya penyediaan ambulans untuk mengevakuasi tersangka, pengawasan sanitasi bangunan, melakukan vektor lalat, spraying khusus, menjalin jejaringan dan kemitraan dengan institusi terkait serta pengadaan masker terhadap penumpang yang menjadi suspect. “Pelaksanaan kegiatan penanggulangan dilaksanakan hingga dicabutnya status PHEIC.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan beserta Pemerintah Kota Tanjungbalai seharusnya telah mengadakan rapat terpadu antara instansi terkait yang berada di wilayahnya untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut dengan instansi vertikal lainnya.

Dalam hal ini, sebenarnya ada tiga hal pokok yang akan dilakukan dalam upaya pencegahan flu babi, yakni mewaspadai semua kasus flu yang terjadi, jika ada indikasi flu babi maka segera dapat tindakan perawatan. Kedua, jika ada pendatang luar negeri atau daging impor yang dicurigai, maka diharap melapor ke Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan setempat. Dan ketiga, melakukan koordinasi dengan Dinas Peternakan.


Pantau Peternakan

Mengingat bahwa di Kota Tanjungbalai juga ditemukan peternak-peternak babi, hal ini adalah riskan dalam menanggapi kejadian yang telah ditetapkan WHO sebagai “PHEIC”. Menteri Pertanian Anton Apriyantono, '' perlu segera memeriksa darah babi. Hasil uji pemeriksaan darah itu untuk menentukan apakah flu babi sudah menjangkiti Indonesia. '' jelasnya kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin. Dia menambahkan, instruksi telah diedarkan kepada seluruh kepala daerah, baik bupati/wali kota maupun gubernur, untuk memantau peternakan babi di daerah masing-masing. ''Kepala daerah juga wajib mengawasi lalu lintas perdagangan babi hidup dan daging babi segar,'' katanya.

Menurut dia, instruksi itu juga meliputi kewajiban kepala daerah menerapkan biosecurity dan sanitasi pada peternakan babi. Pekerja peternakan wajib bersepatu dan berkacamata khusus, serta masker hidung. Kotoran ternak babi, tambahnya, dilarang dibuang di sungai atau lokasi umum dan terbuka, tapi di septik tank khusus. (Liputan6, SCTV)

Apakah Dinas Pertanian Kota Tanjungbalai telah melakukan seperti yang telah dianjurkan oleh Menteri Pertanian ?

Terkait sejarah penyebaran flu mematikan, sejumlah ahli menyatakan kalau Indonesia pernah mengalaminya. Pada tahun 1918, flu Spanyol pernah merebak di Pulau Bali. Virus dengan subtipe H1N1 itu merengut sebanyak 30 ribu nyawa. Untuk itu, perilaku hidup sehatlah yang dapat membantu pencegahan tertular virus flu H1N1.(Liputan6, SCTV)

Ini bertolak belakang dengan yang telah dinyatakan pemerintah. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan jenis virus influenza ini tak bisa berkembang di iklim seperti Indonesia.

Sumber : Dari berbagi sumber.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter