Pages

Senin, 11 Mei 2009

Era Baru di Tanah Arab

PERTAMA, GRUP MUSIK ROCK CEWEK MENGENTAK ARAB SAUDI

Gile bener. Bernaung di bawah bendera the Accolade, mereka percaya diri membawakan musik-musik mengentak. Pertama dalam sejarah permusikan negara padang pasir itu. Meski demikian, mereka tak bisa sembarangan manggung di tempat umum. Mereka harus puas hanya tampil di tempat-tempat rahasia, jauh dari pengawasan otoritas keagamaan yang ultrakonservatif. Selain itu, foto mereka tak bisa sembarangan nampang di sampul album.
Mengutip jinggel iklan rokok: ''Merdeka adalah keberanian mengikuti kata hati''. Begitu pula keteguhan mereka beridealisme di jalur musik. Di negara ultrakonservatif Arab Saudi, grup band cewek itu berani mengusung aliran musik cadas alias rock!
''Di Arab Saudi, itu sebuah tantangan. Mungkin kami gila, tapi kami ingin beda,'' kata Lamia, vokal utama sekaligus pentolan grup musik itu, seperti dikutip dari International Herald Tribune.
Single pertama mereka yang berjudul Pinocchio menjadi salah satu hit underground paling top di kalangan penggemar musik metal di sana. Bahkan, telah di-download oleh ratusan muda-mudi Arab Saudi lewat situs pribadi. Selanjutnya, empat sekawan itu ingin lebih mematangkan karakter bermusiknya lewat peningkatan frekuensi manggung. Tentu saja di tempat rahasia sambil merampungkan album.
Band itu terbentuk tiga tahun silam. Digawangi empat dara muda yang masih berkuliah. Masing-masing Dina dan adiknya, Dareen -yang kala itu baru berusia 19 tahun-, berposisi sebagai pembetot bas. Lantas, Lamia dan Amjad di posisi pemain keyboard.
Mereka berlatih setiap akhir pekan. Kadang, saudara lelaki Dina yang lebih muda diplot sementara sebagai penabuh drum. Awal November, Dina -mahasiswa King Abdulaziz University- mulai menulis lirik lagu berdasar salah satu lukisan paling favoritnya, The Accolade karya Edmund Blair Leighton. Lukisan yang menggambarkan perempuan bangsawan berambut panjang itu memberikan gelar kehormatan kepada prajurit muda dengan sebuah pedang.
''Saya suka lukiasan itu karena menampilkan perempuan yang merasa puas terhadap pria,'' katanya.
Lantaran selama ini mereka masih sering dibantu saudara lelaki sebagai drummer, grup band itu berpikir mancari penggantinya.
''Kami mencari seorang drummer. Sudah lima pria menawarkan diri, tapi kami benar-benar ingin punggawa band yang semua cewek,'' tutur Lamia.
Pinocchio adalah aspirasi yang menyuarakan kesenjangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Negara yang tak mengizinkan perempuan mengemudi ataupun tampil di depan publik tanpa penutup wajah itu menjadikan band tersebut terasa berbeda. Apalagi dinyanyikan perempuan dengan aliran yang tak lazim.
''Tak ada yang salah dengan yang kami lakukan. Ini seni dan kami melakukannya di jalur yang benar,'' yakin Dina, yang berharap suatu ketika bisa konser di Dubai dengan penonton membeludak.
Meski grup musik itu memilih jalur cadas, mereka tak ingin hidup berteman kesesatan, misalnya mengonsumsi narkoba, alcohol, ataupun rokok. Di Arab Saudi, rock and roll dianggap sama dengan kebiasaan jahiliah, era kemerosotan moral. Ini tak lepas dari citra buruk yang dicontohkan grup musik rock Barat. Citranya seperti pemuja setan atau mistis. Bila ada warga yang ketahuan seperti itu, bisa saja masuk penjara dengan tuduhan praktik ilmu hitam atau guna-guna.
Namun, beberapa tahun terakhir, dengan penjagaan polisi agama, band-band mulai diperbolehkan tampil di depan umum, semacam konser. Beberapa kelompok bahkan ada yang telah rekaman album. Dalam beberapa kesempatan, ada pria yang membawa gitar maupun cangkrukan bersama di kala malam di luar kafe di Jalan Tahlia, Jeddah.
Di Jedah, tempat grup musik “The Accolade” bermarkas, barangkali merupakan kota paling kosmopolitan di Saudi, dengan aturan-aturan ketat telah melonggar.
Satu dasawarsa lalu, polisi agama masih menegur dan menghukum perempuan yang dianggap berpakaian tidak pantas, pemuda berambut panjang kadang harus mencukur rambutnya di kantor polisi.
Tapi, terjadi perubahan besar sejak peristiwa serangan teror di New York 11 September 2001. Saudi pun menghadapi dampak ekstremisme dari dalam maupun luar negeri. Lebih dari 60 persen penduduk Saudi adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun dan banyak dari mereka menginginkan kebebasan yang lebih besar.
Dina (21), “pengaruk” gitar sekaligus pendiri grup itu dan saudarinya, Dareen, (19), si pemain bas, bergabung dengan dengan Lamia dan Amjad (pemain keyboard) dan lahirlah “The Accolade”. Semua anggota Allocade berasal dari kalangan menengah dan mereka belum pernah keluar negeri, tidak seperti kalangan atas yang kebanyakan pernah tinggal dan merasakan kehidupan barat.
Arab Saudi masih mengasosiasikan rock’n roll dengan hidup yang mengalami kemunduran.Apalagi banyak grup rock di Saudi memainkan aliran “heavy metal”, yang di Barat kadang menggunakan citra tenung atau setanisme. Di Saudi, orang bisa dipenjarakan bahkan dihukum mati jika melakukan tenung.
Tahun 1995, polisi menggerebek suatu pertunjukan rock di “basement” suatu restoran di Jidda dan mengangkut 300 orang dari tempat itu.
Dikutip dari berbagai sumber.


TAK PEDULIKAN FISIK, KONTES KECANTIKAN DIGELAR DI ARAB SAUDI

Satu-satunya kontes kecantikan yang pernah diadakan di Arab Saudi, saat ini tengah gencar-gencarnya dalam persiapan untuk digelar. "Miss Beautiful Morals", demikian nama titel yang dikejar oleh sejumlah kontestan itu, sebagaimana namanya, memang tidak mengutamakan kecantikan fisik, melainkan inner beauty.
"Ide dari kontes ini adalah untuk memastikan komitmen para kontestan terhadap moral Islam ... Ini adalah alternatif terhadap dekadensi yang telah terjadi dalam berbagai kontes lain yang hanya memperhatikan kecantikan tubuh dan penampilan," ungkap Khadra al-Mubarak, penggagas kontes tersebut, sebagaimana diberitakan AP dan dikutip FoxNews, Kamis (7/5).
Salah seorang peserta kontes misalnya, adalah wanita bernama Sukaina al-Zayer. Secara penampilan, ia terlihat layaknya wanita Saudi kebanyakan, yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya dengan pakaian hitam, termasuk wajahnya dengan mengenakan cadar yang rapat.
"Pemenangnya (kontes ini) tidak harus cantik secara fisik. Yang kami pedulikan adalah kecantikan jiwa dan moralnya," tambah Khadra pula.
Namun, sebagaimana kebanyakan kontes-kontes lain, pemilihan pemenang untuk kontes ini juga melalui proses seperti kebanyakan. Mulai resmi dibuka Sabtu depan, seluruh kontestan yang berjumlah hampir 200 orang bakal menjalani 10 pekan ke depan dengan menghadiri kelas-kelas kepribadian dan mengikuti sejumlah kuis/tes.
Sejumlah tema sudah disiapkan untuk menguji kelayakan para peserta dan menyeleksi mereka. Antara lain mulai dari tema-tema seperti "Menemukan kekuatan dalam diri Anda", "Membentuk pemimpin", hingga "Ibu, surga ada di telapak kakimu" dan sebagainya. (JPNNCom)


0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan anda memberikan komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

Counter