
Ketika Anda hendak membeli ban mobil yang juga similar dengan ban motor, tukang ban paling menyebut ring dan lebarnya berapa? Padahal, di dinding ban, terutama sisi luar, banyak tulisan maupun kode. Semua itu mengandung arti, lebih tepatnya identitas dari si karet bundar itu sendiri.
Bahayanya, Anda tak tahu kalau ban itu diproduksi tahun berapa. Padahal, tertulis di sisi pinggirnya. Termasuk juga batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Masih banyak kode-kode lainnya, mari simak di bawah ini.
1. 215/50 ZR17 95W
Angka dan huruf ini menandakan profil dan kecepatan yang diizinkan. 215 = lebar tapak ban yang menempel ke permukaan jalan, dihitung dari ujung kedua sisi. 50 = ketinggian dinding ban (biasanya ada yang 45, 55, 60 sampai 70). Kalau dalam milimeter perhitungannya, 50 tadi merupakan persentase dari tapak ban. jadi, 50% x 215 menghasilkan (dibulatkan) 106 mm. Adapun ZR17 menunjukkan diameter lingkar roda alias velg. Populer disebut ring 17. 95W = Angka sebagai indeks berat maksimal yang dapat dipikul oleh ban, sedangkan W menunjukkan batas kecepatan maksimal 270 km/jam yang dibolehkan. Kemudian kode lainnya, S=180 km/jam, M=130 km/jam, N=140 km/jam, P=150 km/jam, Q=160 km/jam, R=170 km/jam, S=180 km/jam, V=240 km/jam, T=190 km/jam, U=200 km/jam, dan H=210 km/jam.
2. Manufactured dan Brand
Produsen ban dan nama produknya
3. Made in (Indonesia) dan SNI (Indonesia)
Negara pembuat dan ban sudah melewati batas standardisasi yang ditetapkan di negara sendiri.
4. Logo Segitiga atau TWI (Tread Wear Indication)
Batas pemakaian ban. Biasanya jika diteruskan dengan menarik garis ke arah tapak ban, maka akan ada tanda lainnya, berupa bar yang menghubungkan antarkembang ban. Ketika sudah saling berhubungan, berarti ban sudah tergolong botak dan harus cepat diganti.
5. Racikan Ban
Contohnya, Plies:Tread 2 Polyester 2 DSteel I Nylon, Sidewall 2 Polyester yang bisa menunjukkan kalau tapak terdiri dari 2 polyester, 2 steel dan 1 nylon, sedangkan bagian dinding ban hanya 2 polyester.
6. Production Date
Tanggal pembuatan yang dicetak dalam bentuk lonjong atau elips. Sebanyak 4 angka terakhir di dalam bidang itu menunjukkan ban diproduksi dengan rincian, 2 angka terakhir tahun produksi dan 2 angka awal (di depannya) minggu ke berapa (dalam satu tahun).
7. E Mark
Di beberapa ban, tanda ini menunjukkan di negara mana saja bisa diterima. Semisal E1 bisa diterima di Jerman, E2 Perancis, E3 di Italia, atau E4 Belanda.
8. Kompon Ban
Untuk ban ada jenis komponnya, yakni SS (super soft), S (soft), M (medium), MH (medium hard), dan H (hard). Ban dengan kompon S lebih mencengkeram ke aspal, tetapi lebih cepat aus. Terlebih cara mengemudi tergolong kasar.
Mau Aman, Isi Ban dengan Nitrogen
Selain pakai angin, kini beberapa toko ban juga menyediakan gas nitrogen (N2) untuk diisi ke roda. Begitu ganti isinya, tutup pentilnya pun ditukar dengan warna hijau. Selain Jakarta, beberapa kota besar sudah menyiapkan N2.
Banyak keuntungan dengan memakai N2 ketimbang keempat roda mengandalkan angin. Namun, harga untuk pengisian setiap ban cukup mahal dibandingkan dengan yang pakai angin. Untuk satu ban berkisar antara Rp 7.500 dan Rp 20.000. N2 juga bisa diisi pada sepeda motor.
Apa saja keuntungannya.
1. Nitrogen tidak mudah keluar dari pori-pori ban karena partikelnya lebih besar dibanding angin biasa. Jadi, tak perlu terlalu sering isi angin. Walau sekarang pada umumnya sudah banyak ban yang memiliki kandungan nitro buthyl yang membuat uap air (pada ban berisi angin) tak bisa menyerap ke pori-pori.
2. Bobot N2 lebih ringan dari angin dan berat molekulnya juga lebih rendah, yakni 14 atom berbanding 16 atom.
3. Tidak mudah panas dan tekanan udara di dalam ban lebih stabil. Ini disebabkan sifat nitrogen yang dingin dan tak mudah bereaksi sehingga, ketika mobil melesat dengan kecepatan tinggi, tekanannya tetap stabil. Tidak demikian dengan ban yang berisi angin.
4. Jarak tempuh lebih baik lantaran karet menjadi awet karena dipengaruhi sifat dingin nitrogen.
5. Velg terhindar korosi, khususnya bagi ban tubeless akibat tiadanya uap air. Umumnya, kandungan nitrogen memiliki standar minimal 93 persen, dikategorikan tanpa uap air.
Berikut ini info untuk pemilik kendaraan ketika tukang ban melakukan pengisian nitrgoen:
1. Kuras angin ban disertai dengan melepas pentil.
2. Setelah terbuang, isi N2 80-85 persen dari tekanan idealnya. Semisal ban profil tipis, jika seharusnya diisi 40 Psi, untuk penggunaan ini, cukup diisi 32-34 Psi.
3. Kemudian, lakukan poin 1 (buang nitrogen) dan isi kembali (pentil belum terpasang). Tujuannya agar, saat pengisian, asupan kedua murni N2.
4. Pasang pentil dan lanjutkan dengan pengisian kembali sampai batas ideal.
Mengusir Kabut di Helm Saat Hujan

Coba perhatikan pengendara motor kala melesat di tengah hujan, tak sedikit yang membuka kaca helm (visor). Bukan pernafasan terganggu, melainkan kacanya berembun (foging). Gangguan itu datang menghinggap lantaran kualitas pelindung kepala yang di bawah standar sehingga, ”Suhu udara di dalam dan di luar helm berbeda. Akhirnya, kondisi ini menyebabkan visor berembun,” jelas Agus Hermawan, owner Juragan Helm di Cengkareng, Jakarta Barat.
Ada cara singkat melenyapkan kabut, dan itu bisa dilakukan sambil jalan, yakni buka separuh kacanya. Hanya, ada konsekuensi yang harus diterima. Muka jadi tidak bersih alias basah dan ujung-ujungnya bisa masuk angin.
Kerugian lain, pading helm basah, apalagi sulit mendapatkan sinar matahari untuk menjemurnya, bikin apek. Agar di jalan tetap enjoy tanpa harus buka kaca saat hujan, ada part helm anti-kabut, dan ini dibuat dalam beberapa model, yakni yang 'sistem' dan 'stok'. ”Saat ini yang diminati model fog city dan pin lock,” jelas Agus.
Keduanya dibilang sistem karena merupakan lapisan layer yang ditempel pada visor bagian dalam. Kemampuannya dalam mengatasi embun bisa maksimal, malah menurut Agus bisa sampai 100 persen karena buatan luar.
Pantas bila keduanya mempunyai harga antara Rp 300.000 dan Rp 450.000-an. Saat membeli ada yang harus diperhatikan, keperuntukkannya. Jangan sampai terpilih untuk anti-gores (anti-scratch) yang dipasangnya pada bagian luar kaca.
Kalau helm branded, itu biasanya sudah dilengkapi anti-kabut. Namun, kemampuan menghilangkan kabut cukup terbatas. Untuk meningkatkannya, Anda bisa pakai model stok, yaitu berupa cairan yang dilapisi pada visor bagian dalam. Nah, kondisinya sedikit riskan jika Anda membersihkan visor di saat kotor. Salah perlakuan, anti-kabut bisa hilang.
Namun, helm branded biasanya sudah dilengkapi part sirkulasi. Misalnya pada helm merek Arai atau Spark, keduanya memiliki ventilasi tambahan. Tidak berpengaruh langsung, memang, karena efeknya sedikit sekali. Sirkulasi udaranya justru ke kepala.
Untuk menjaga anti-fog bekerja baik, perhatikan kawat ram dengan kisi rapat. Fungsinya mencegah kotoran tidak masuk. Makanya, sesekali bersihkan dengan sikat gigi, terutama sirkulasi di depan atau chinvent yang bisa menghilangkan kabut.
Sumber : Kompas.com






0 komentar:
Poskan Komentar
Silakan anda memberikan komentar